Harapan
Sebuah Cerita Pendek, Karya Gue Sendiri, Untuk Aktualisasi Diri
Banyak orang bilang kalau berharap itu berbahaya.
Tapi apa salahnya berharap kalau harapan itu akan menjadi kenyataan?
Karena pada malam hari ini, gue, Naya, yakin kalau harapan gue akan menjadi kenyataan.
Malam ini, takdir akan menulis kisah yang berbeda.
Malam ini adalah prom night.
Sebuah acara perpisahan yang bukan sekadar pesta, tetapi sebuah perayaan sebelum kita melangkah menuju dunia yang lebih luas.
Malam yang kata banyak orang akan menjadi kenangan terindah dan paling diingat.
Dan gue akan mengenangnya sebagai malam terindah dalam hidup gue.
Semua orang tampak luar biasa malam ini.
Ballroom hotel berkilau dalam cahaya lampu kristal yang menggantung anggun di langit-langit, dan tawa teman-teman sekolah yang bercampur dengan kilauan gaun dan jas terbaik mereka.
Segalanya terasa sempurna.
Tetapi tidaklah lengkap tanpa dia.
Raka.
“Sahabat yang selalu ada buat gue. Kita pertama kali ketemu karena satu kelas. Awalnya cuma kerja kelompok bareng, lalu mulai sering nongkrong.
Tanpa sadar, dia tumbuh jadi bagian terpenting dalam hidup gue.
Dan malam ini, gue berharap dia bisa jadi lebih dari sekadar sahabat.”
Gue melirik ke arah pintu masuk ballroom, berharap melihat sosoknya di antara tamu yang berdatangan. Tapi sejauh ini hanya ada wajah yang bukan dirinya.
Pikiran gue pun mulai berisik sendiri.
“Dia jadi dateng enggak sih?”
“Apa dia sengaja nggak dateng?”
“Tenang, Nay. Dia bakalan datang, kok.”
Suara Dina membuyarkan kegelisahan gue.
Dina adalah sahabat gue sejak SMP. Entah gimana caranya, dia sepertinya selalu bisa membaca isi kepala gue sebelum gue sempat ngomong. Mungkin dia punya bakat menjadi cenayang. Atau admin akun gosip di sosmed.
Dina menyodorkan gelas mocktail-nya ke gue.
“Minum dulu kali, Nay. Lu kelihatan tegang banget kayak tiang listrik PLN.”
“Ah, Din! Gue nggak segitunya, kok,” kata gue sambil menerima gelas dari tangan Dina.
“Masak sih? Terus kenapa lu bisa keringetan di tengah ruangan serba AC begini?”
Gue buru-buru menghapus keringat gue dan menghela napas panjang. Dina memang tahu seberapa besar harapan yang gue punya untuk malam ini.
“Nay… Lu yakin hal yang lu harepin itu bakal kejadian malam ini?” suara Dina berbisik.
Gue menelan ludah, tapi menjawab dengan yakin.
“Ya iyalah, Din. Udah jelas dia ngasih kode suka sama gue. Gue tinggal nunggu dia ngomong doang, lah.”
Dina terdiam sejenak, lalu mengangkat bahunya.
“Atau mungkin, Nay… justru Raka yang nunggu lu ngomong duluan.”
Dada gue berdesir. Pikiran gue langsung muter ke momen-momen yang selama ini gue simpan baik-baik.
Cara dia bikin gue ketawa tanpa usaha. Cara dia inget hal-hal kecil yang bahkan gue sendiri lupa. Cara dia selalu ada setiap kali gue butuh.
Apa mungkin Dina benar?
Kemudian pintu ballroom pun terbuka lagi.
Kali ini penglihatan gue berkunang sejenak. Tapi gue yakin itulah dia.
Raka.
Dia yang terbiasa berpakaian santai kini berjas hitam. Rambutnya yang selalu melewati kuping itu kini rapi. Meski, ya, sedikit berantakan sih. Kayak perasaan gue saat ini.
Dina menyikut lengan gue.
“Nay, tuh doi lu udah dateng. Sana samperin!”
“Ih, mana ada cewek nyamperin cowok, Din. Adanya mah disamperin.”
“Yee elah, ini orang. Gengsi gede bener kayak cicilan iPhone.”
“Ah, udahlah. Berisik lu, Din. Nggak membantu.”
Tanpa gue sadar, Raka sudah melihat kita dan mendekat.
“Nay!”
“Nay! Tuh dia udah mau nyamperin lu. Udah ya, gue cabut dulu sebelum lu berdua berubah jadi karakter utama drama Korea.”
Gue pun melotot.
“Din, apaan sih!”
Tapi sebelum gue bisa protes lebih jauh, Dina sudah melesat pergi secepat kilat, meninggalkan gue sendirian… tepat saat Raka mulai melangkah mendekat.
“Nay.”
Suaranya terdengar jelas di tengah riuhnya ballroom.
Gue berusaha terlihat tenang dan rileks, meski tangan gue refleks menggenggam gaun gue dengan kencang.
“Weh, Ka! Gue kira lu enggak bakalan dateng ke sini. Lu kan paling anti sama acara yang sok rapi-rapi begini.”
Raka tertawa kecil.
“Gila, Nay. Mana mungkin gue enggak dateng. Hari ini kan malam terakhir kita semua bisa bareng di sini.”
Kata-kata itu membuat gue terdiam sejenak.
Malam terakhir.
Raka benar.
Malam ini bukan sekadar pesta perpisahan biasa. Ini adalah malam terakhir. Kesempatan terakhir yang nggak boleh terlewatkan begitu saja.
Sebelum gue sempat berkata apa — apa, tiba — tiba MC acara prom night terdengar di atas panggung dan membuyarkan pikiran gue..
“Hello, Kings and Queens! The night we’ve been waiting for is finally here! Let’s get this party started!”
Tepuk tangan dan sorak sorai memenuhi ballroom. Musik upbeat mulai dimainkan, bassnya terasa sampai ke lantai tempat gue berdiri.
Di sekitar gue, orang-orang langsung berpencar — ada yang serbu meja makanan, ada yang sibuk foto di photobooth, dan ada yang langsung ke dance floor, menikmati beat yang semakin cepat.
Tanpa sengaja, mata gue juga menangkap sosok Dina di tengah dance floor..
Mata kami bertemu..Dina melirik sebentar, lalu dengan santai mengedipkan sebelah matanya — sebuah kode kecil yang seolah bilang, “Mantap.”
Lalu gue melirik ke arah Raka. Dia terlihat menikmati suasana, matanya sibuk mengamati sekitar, sesekali ketawa kecil melihat teman-teman kita yang heboh sendiri. Entah kenapa, melihat dia ketawa kayak gitu… bikin gue ikut tersenyum.
“Gila, rame banget ya, Nay,” Raka geleng-geleng kecil.
“Iya, Ka… Orang-orang pada heboh banget, kayak besok nggak bakal ketemu lagi.”
Raka menoleh, senyumnya tipis. “Ya kan emang gitu, Nay. Habis ini kita bakal sibuk sama hidup masing-masing.”
“Sibuk kan bukan berarti ngilang,” gue menimpali.
Dia mengangkat bahu. “Siapa yang tahu? Kadang hidup bawa kita ke arah yang beda tanpa kita sadar.”
“Tapi kita nggak bakal lost contact, kan?”
Raka ketawa kecil, tapi nggak langsung jawab. Dia menarik napas sebelum akhirnya menatap gue.
“Enggak, Nay. Tapi…” Dia ragu sejenak. “Setelah malam ini, kita nggak akan sama seperti sebelumnya.”
Dada gue terasa sesak.
“Kenapa?”
Raka membuka mulutnya, tapi sebelum sempat menjawab —
“Oke gaes! sekarang saat kita ke sesi yang lebih selow, yang lebih romansa..Buat yang udah ada pasangan langsung gas! Buat yang masih jomblo yaa berharap ada yang ngajakin aja hahahaha..Okey lets go!”
Lampu ballroom meredup perlahan. Musik upbeat berganti jadi melodi lembut. Gue masih diam di tempat, mencerna kata-kata Raka barusan.
Sebelum gue sempat berpikir lebih jauh, Raka berdiri di depan gue, santai.
“Nay, kita ke dance floor, yuk. Mumpung kita sama-sama single.
Gue menatapnya beberapa detik. Dia serius.
“Hah, lu bisa dance?”
“Tenang aja, gue expert,” katanya sok percaya diri.
Gue akhirnya menerima ajakannya. Beberapa detik kemudian, kami sudah berdiri di tengah ballroom, tangan gue dalam genggaman Raka.
Cahaya lampu mengantung lembut diatas kami, sementara yang lain juga mulai berdansa di keliling..
Gue menghela napas pelan..Ternyata ini memang kenyataan..Gue dan raka di dalam ballroom yang mewah, berdansa Bersama..
Momen ini terasa sangat sempurna..
“Nay, jangan bengong. Lu ikutin gerakan gue dong,” kata Raka tiba-tiba.
Gue menaikkan alis. “Lu gerak apaan sih, Ka? Orang kiri kanan nggak jelas doang dari tadi.”
“Lah ini gue baru mau pake Teknik niih..Ikutin yak!”
Raka mulai bergerak… dan dalam lima detik —
“Astaga Raka!, lu barusan nginjek kaki gue!”
“Eh, sorry sorry!” Raka buru-buru mundur.
“Katanya pake teknik? Ini teknik apaan? Teknik ngajakin kaki orang berantem?”
Gue pura-pura marah, padahal ketawa dalam hati.
“Sumpah Nay, lantainya licin!”
“Alesan aja lu Rak!” Gue mendelik, tapi sebenarnya gue menikmati setiap detiknya.*
Di antara tawa kecil dan gerakan canggung, gue sadar…
Kalau bisa, gue pengen waktu berhenti di sini.
“Raka,” gue memanggilnya pelan.*
“Hm?”
“Tadi sebelum ke dance floor, lo kayaknya mau bilang sesuatu ke gue, kan?”
Dia terdiam sebentar, lalu menghela napas kecil, melepaskan genggaman tangannya dari gue.
“Ikut gue sebentar.”
“Gue membelalakkan mata. “Hah? Ke mana?”
“Sebentar aja,” katanya dengan nada serius, tapi tetap ada senyum kecil di bibirnya. “Ada sesuatu yang mau gue omongin.”
Jantung gue berdetak lebih cepat.
Gue mengangguk tanpa ragu.
Raka meraih tangan gue — bukan genggaman yang erat, tapi cukup buat bikin gue yakin kalau ini adalah sesuatu yang penting.
Dia menuntun gue keluar dari ballroom, menuju bagian belakang gedung yang lebih sepi. Hanya ada cahaya temaram dari lampu taman yang menerangi area itu, bikin suasana terasa lebih intim.
Udara malam sedikit lebih dingin dibanding di dalam ballroom, tapi gue nggak peduli. Karena yang ada di kepala gue sekarang cuma satu hal.
Ini saatnya.
“Rak, lo bikin gue penasaran, sumpah,” kata gue sambil tertawa kecil, mencoba menyembunyikan detak jantung gue yang makin nggak karuan.
Dia menghela napas, tangannya masuk ke saku celananya seolah sedang nyari keberanian sebelum ngomong.
Disaat yang bersamaan, tiba-tiba kata-kata Dina terngiang di kepala gue.
“Mungkin Raka yang nunggu lo ngomong duluan.”
Gue menggigit bibir. Apakah mungkin…ini moment yang tepat?
Gue menatap Raka yang sekarang lagi sibuk menatap tanah, seolah lagi menyusun kata-kata. Napas gue memburu, hati gue pun bimbang..
Apa gue emang harus ngomong duluan? Apa gue harus nembak dia sekarang?
“Naya… gue udah lama mikirin ini.”
“Setelah malam ini, kita nggak akan sama seperti sebelumnya.”
Dada gue berdesir. Kata-kata itu terdengar lebih berat dibanding sebelumnya, seolah dia udah lama menyimpan ini. Seolah dia tahu sesuatu yang gue nggak tahu, sesuatu yang bakal mengubah segalanya.
Ternyata Dina salah… pikir gue. Bukan gue yang harus ngomong duluan. Raka yang akan menyatakan perasaannya ke gue.
Dia menarik napas dalam, menatap gue lebih dalam, seakan memastikan bahwa gue benar-benar memperhatikan apa yang akan dia katakan.
“Nay, gue nggak tahu kalau gue harus ngomong ini sama lo dulu atau nggak… tapi gue nggak mau kita berubah jadi aneh setelah ini.”
Gue mengernyit. “Hah? Aneh? Maksudnya?”
Ini dia. Momen yang akan menjadi keindahan malam ini. Momen yang akan mengubah segalanya.
Tapi ternyata…
“Karena gue suka Dina.”
Dunia gue seketika berhenti berputar.
Semua suara menghilang. Musik dari ballroom yang tadinya terdengar di telinga kini seperti gema jauh yang tertiup angin. Cahaya lampu taman dan angin malam yang menyentuh kulit — kini semuanya terasa hampa.
Karena di detik itu, sesuatu di dalam diri gue ada yang retak. Bukan dengan suara gemuruh yang dramatis, tapi perlahan… seperti kaca yang pecah dalam diam, menyisakan serpihan yang nggak akan pernah bisa kembali utuh.
“Nay?”
Suara Raka terdengar ragu, seakan dia sadar gue nggak langsung merespons. Tapi gue masih terjebak di antara waktu yang seolah berhenti, di antara kenyataan yang terasa begitu asing.
Gue menelan ludah, mencoba menarik diri kembali ke dunia yang nyata. Gue harus bilang sesuatu. Gue harus bereaksi. Gue harus…
“Hah?” Itu satu-satunya kata yang berhasil keluar dari mulut gue. Kecil. Rapuh. Hampir seperti bisikan angin yang tahu dirinya nggak akan pernah terdengar.*
Raka menggaruk tengkuknya, senyum kecil muncul di wajahnya — senyum yang selama ini bikin gue nyaman, tapi kali ini rasanya seperti belati yang menusuk pelan ke dada gue.
“Iya… Gue suka Dina. Udah lama, sih. Gue cuma kepikiran… Menurut lu gue ada kesempatan enggak?”
Dada gue semakin sesak. Napas gue tercekat di tenggorokan.
“Jadi… lo ngajak gue ke sini buat… ngomongin ini?” Gue berusaha terdengar normal, tapi suara gue sedikit bergetar. Gue berharap Raka nggak menyadarinya.
Raka menghela napas pelan, tangannya masih di saku celana. “Iya nay, lo kan deket sama Dina. Gue pengen tahu aja, menurut lo apa gue ada kesempatan atau enggak sama dia”
Gue terdiam. Bukan karena nggak tahu harus jawab apa, tapi karena otak gue masih berusaha memproses betapa ironisnya ini.
Selama ini, gue pikir dia lagi menunggu gue buat ngomong duluan. Selama ini, gue pikir dia sadar kalau ada sesuatu di antara kita. Tapi ternyata… gue cuma sekadar ‘jalur pintas’ buat dia mendekati orang lain.
Gue ingin tertawa. Gue ingin berteriak. Gue ingin bilang bahwa gue bukan cuma sahabatnya Dina, tapi juga seseorang yang selama ini… berharap dia melihat gue lebih dari sekadar teman.
Tapi yang gue lakukan hanyalah tersenyum kecil, mencoba menelan pahitnya kenyataan.
“Oh… Gitu ya.” Gue mencoba menyusun kata-kata gue sebaik mungkin. “Hmm… ya nggak tahu juga sih, Rak. Kayaknya sih… bisa aja?”
Gue benci betapa bergetarnya suara gue saat bilang itu. Gue benci betapa gampangnya kata-kata itu keluar dari mulut gue, padahal di dalam hati gue, semuanya terasa berantakan.
“Beneran, Nay?” Mata Raka sedikit melembut, suaranya nggak seantusias tadi, tapi masih penuh harapan. “Jadi… lo bisa bantu gue?”
Dan saat itu, gue sadar… Raka nggak akan pernah sadar.
“Jadi… lo bisa bantu gue?”
Kalimat itu menggantung di udara, tapi buat gue, rasanya kayak beban yang tiba-tiba jatuh tepat di dada. Berat. Sesak. Begitu nyata sampai gue nyaris nggak bisa bernapas.
Gue harus jawab. Gue nggak boleh kelamaan diem. Dia bakal curiga.
“Oh… iya, bisa lah.” Gue berusaha terdengar biasa aja. “Gampang itu, mah.”
Padahal nggak ada yang gampang dari ini.
Raka menghembuskan napas lega, senyum tipis muncul di wajahnya. “Gue nggak nyangka lo bakal segampang itu nyetujuin, Nay. Gue kira bakal canggung.”
Iya, Rak. Canggung banget. Lo aja yang nggak sadar.
Gue tersenyum kecil, tapi rasanya bibir gue mati rasa.
“Iya, santai aja, Rak.”
Santai aja, Nay. Santai aja.
“Thanks, Nay. Gue tau gue bisa ngandelin lo,” katanya dengan nada tenang, matanya penuh keyakinan. Lalu, seolah baru sadar sesuatu, dia melirik ke dalam ballroom. “Gue balik ke dalam dulu, ya. Mau cari Dina.”
Gue mengangguk pelan, berusaha menjaga ekspresi gue tetap biasa aja. “Iya, sana.”
Tanpa ragu, dia melangkah pergi.
Dan gue cuma bisa berdiri di sana, melihat punggungnya menjauh, membawa serta semua harapan yang tadi sempat gue punya.
Kini gue masih berdiri di tempat yang sama. Nafas gue pelan, tapi berat. Gue nggak tahu apa yang lebih parah — rasa sakit yang mulai merayap ke dada gue, atau kenyataan bahwa gue nggak bisa marah sama sekali.
Karena ini bukan salah Raka.
Bukan salah dia kalau dia nggak pernah ngeliat gue lebih dari sahabatnya.
Bukan salah dia kalau hatinya nggak pernah jatuh ke gue.
Gue harusnya udah tahu. Harusnya gue sadar dari awal.
Tapi tetap saja, harapan itu emang licik.
Dia bikin gue percaya.
Gue pikir, kalau gue cukup bersabar, kalau gue cukup tulus, semesta akhirnya bakal berpihak. Tapi kenyataan nggak pernah sebaik itu.
Kini gue pun sadar bahwa berharap itu enggak salah..Cuman kalau kita sudah berani berharap, kita juga harus siap untuk kecewa..
Karena nggak semua harapan tercipta untuk terwujud.
Kadang, dia cuma ada buat ngajarin kita sesuatu.
Gue menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang dingin memenuhi paru-paru gue. Dada gue masih terasa berat, tapi gue tahu, pelan-pelan, semuanya bakal lebih ringan.
Mungkin bukan sekarang. Mungkin nggak besok. Tapi suatu hari nanti, gue akan bangun di pagi hari tanpa rasa ini.
Dan dengan langkah kecil yang terasa lebih berat dari seharusnya, gue memilih buat pergi.
Bukan karena gue nyerah.
Tapi karena gue akhirnya tahu, ada harapan yang memang cuman bisa menjadi sebatas harapan.

